Melihat Kebakaran di Stasiun Pocin Secara Live -> Momen untuk Introspeksi Diri


Yaaah, sekitar pukul 02.00 dini hari tanggal 31 Juli 2010 semalam di kosan saya Nugraha Pratama Jl.Stasiun Pocin no.32, saya terbangun dari tidur karena mendengar teriakan teman2 se-kosan saya, “Kebakaraaan, bangun semuanyaaaa ayo cepetan kita keluaaaaaar!”. Saya yang masih baru melek merasa bingung apakah ini sekedar mimpi atau kenyataan (gara2 abis nonton film Inception nih :P ). Lalu saya mencoba melangkahkan kaki dari tempat tidur dan membuka pintu kamar, dan terlihat teman2 saya yang sedang ribet mempersiapkan bawaannya untuk segera turun sambil berteriak2. Saya bertanya, “Kenapa sih, kenapa sih?” Salah satu teman saya menjawab, “Ituuu stasiun depan kebakaran, ayo buruan turuuuun.” Yaah akhirnya saya sadar, ini bukan mimpi, Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Lalu saya bergegas memakai baju panjang dan jilbab, kemudian saya harus berfikir selektif dalam membawa apa yang wajib saya bawa, akhirnya saya mengambil ransel yang semalam habis dipakai untuk pergi ngaji yang berisi Al-Qur’an besar hasil saya ngaji/belajar tafsir makna bertahun2 dan Al-Hadits kitab Ibnu Majah, lalu saya memasukkan laptop beserta chargernya, buku pinjaman dari teman, dompet, dan hp. Ya, insyaAllah yang saya pilih untuk saya bawa ini barokah. Begitu selesai memasukkan barang, tiba2 lampu mati, masyaAllah, akhirnya saya dan beberapa teman lain turun dari lantai 3 dengan gelap2an. Sesampainya di bawah, saya melihat api yang berkobar sangat besar disertai bunyi letupan2 (yang menurut orang2 adalah bunyi motor terbakar), saya masih terdiam di depan stasiun sambil menunggu teman2 lain turun semua. Saya memang tipe orang yang mudah panik, sehingga air mata karena tidak tahan menyaksikan kejadian ini pun keluar dari mata saya sambil tak henti2nya menyebut nama-Nya. Orang2 sudah ramai di bawah, beberapa yang emosi mengatakan, “Mana sih ni pemadam gak dateng2 udah ditelpon dari tadi juga”. Lalu tiba2 tiang listrik yang tepat berada di depan kosan saya mengeluarkan percikan api kilat. Yak, saya dan teman2 segera melarikan diri menuju tempat yang lebih aman, yaitu ke jalan raya Margonda. Di sana saya baru mencoba menghubungi orangtua di rumah dan bercerita ttg kejadian ini tentunya sambil menangis terisak-isak. Teman2 pun mencoba menenangkan untuk memasrahkan saja segalanya, bersyukurlah kita masih bernyawa dan jasad kita tidak terpanggang saat tertidur, apa yang diberikan oleh-Nya akan kembali kepada-Nya. Yaaa kesabaran pun diuji atas musibah ini. Saat agak tenang, baru saya mencoba mengabari teman2 lain untuk mohon doanya agar kosan saya dan lain2nya masih dapat terselamatkan.

Lalu kami saling share barang apa saja yg sudah kami bawa. Rata-rata teman2 saya menyelamatkan laptop, dompet, hp, dan ijazah/surat2 penting. Ya Alloh, saya tidak terpikirkan untuk menyelamatkan ijazah/surat2 penting lainnya karena saya meletakkannya di lemari yang tertutup jadi ketika panik tidak mudah terlihat >,<, sempat menyesal juga sih, ya tapi mau bagaimana lagi T.T. Beberapa menit kemudian, bunyi blangwir mobil pemadam pun terdengar dari jalan Margonda, yaah semoga mereka belum terlambat. Tak henti2nya saya berdoa dan menyebut2 nama-Nya sambil menunggu api tsb benar2 padam, akhirnya sekitar puku 03.30 kami pun sudah diperbolehkan kembali ke TKP karena katanya api sudah lumayan padam. Alhamdulillah kosan kami tidak terkena sambaran api, lalu kami kembali naik ke lantai 3 kosan namun masih enggan untuk masuk kamar, mungkin karena masih trauma. Akhirnya kami standby di ruang tamu lt.3 sambil melihat pemadam yang sedang bekerja melalui jendela ruang tamu tsb. Api memang sudah cukup padam, namun belum mati total, masih ada bara2 menyala di beberapa tempat. Namun herannya, sesaat setelah itu pemadam meninggalkan TKP. Saya dan yg lainnya merasa kesal dan belum lega karena bara api tsb jika dibiarkan masih memungkinkan untuk menyala lagi. Akhirnya beberapa saat kemudian, apa yg kami khawatirkan benar2 terjadi, bara tersebut membesar dan menyala kembali, mereka pun dihubungi kembali untuk memadamkannya lagi. Dalam hati saya, “Hmm, sepertinya harus ditanamkan jiwa perfeksionis nih pada para pemadam kebakaran agar mereka tidak berani-beraninya meninggalkan TKP sebelum apinya benar2 mati total :lol: ”. Kebakaran tsb akhirnya meludeskan 36 motor, kantor kepala stasiun, loket utama, mushola, dan toilet. Ketika waktu subuh, baru kami yakin bahwa keadaan benar2 aman dan kamipun bergegas untuk solat subuh dan kembali ke kamar masing2. :)

Hikmah dan pesan2 yang bisa diambil untuk saya sendiri (yang lain juga boleh deh :P ) dari musibah kebakaran ini :

  1. Kalau terjadi kebakaran, pertama harus selamatkan diri dulu, trus kalau masih sempat harus selektif mana barang2 yg wajib dibawa, yaitu yg krusial, sangat penting, dan susah terganti seperti berkas2, ijazah, dll. Yang lainnya kalau kira2 bisa tergantikan dg mudah seperti pakaian, setrikaan, rice cooker ditinggal aja kayaknya gapapa :D
  2. Segera hubungi pihak yang bisa menangani, juga keluarga dan teman2 untuk memohon bantuan doanya agar hal2 yg tidak kita inginkan tidak terjadi. Jangan lupa kita sendiri juga perbanyak berdoa.
  3. Ini baru kebakaran biasa, jika dibandingkan dengan musibah2 lain yang lebih mengerikan, seperti kebakaran 1 desa, tsunami, longsor, gempa, dll. Yaaah, mau gak mau kita harus siap setiap saat untuk mengembalikan semua (termasuk diri kita) kepada pemiliknya karena ajal datengnya gak pake ngetok pintu dulu cuy ;) . Sudah cukupkah amalan kita untuk mendapatkan surga-Nya?
  4. Api kecil bisa menghangatkan tubuh, api besar bisa membawa malapetaka. Namun, api dunia tidak ada apa2nya jika dibandingkan dengan api neraka. Ingatlah Saudara-Saudaraku, bersyukurlah kalian yang selalu menjaga diri dalam keadaan iman dan takwa, senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena kalau kita “bandel” dan tetap mengerjakan larangan-Nya, api neraka di akhirat kelak akan menyambut kita dengan senang hati. Naudzubillah min dzalik.

Source gambar :

http://news.okezone.com/read/2010/07/31/338/358333/puslabfor-teliti-kebakaran-stasiun-pondok-cina

http://www.mediaindonesia.com/index.php/foto/5451/Kebakaran-Stasiun-Pondok-Cina-#

Advertisement